Direktur Strategi Pasar Energi StoneX, Alex Hodes, mengatakan ancaman tersebut meningkatkan risiko terganggunya dua jalur utama ekspor minyak di Timur Tengah secara bersamaan.
"Dengan Selat Hormuz yang sudah ditutup, ancaman ini meningkatkan risiko serius bahwa dua jalur utama ekspor minyak di Timur Tengah akan terganggu pada waktu yang sama," katanya.
Berdasarkan data Kpler, sekitar 7,4 juta barel minyak per hari melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Juni atau sekitar 7 persen dari total produksi minyak global.
Angka tersebut meningkat dibandingkan 4,2 juta barel per hari pada tahun lalu.
Strategis Pasar Keuangan Exness, Wael Makarem, mengatakan gangguan bersamaan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb akan memperparah tekanan terhadap rantai pasok energi global.
"Jika gangguan terjadi secara bersamaan di Hormuz dan Bab el-Mandeb, tekanan pada rantai pasok akan meningkat signifikan, ketersediaan kapal tanker semakin terbatas, dan premi asuransi pengiriman akan melonjak," ujarnya.