“Pasar bergerak enggan naik di tengah sentimen bullish dari Iran, tetapi langsung merosot tajam hanya karena sedikit indikasi pembukaan kembali Selat Hormuz,” kata analis firma penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates.
“Kontras respons terhadap sentimen bullish dan bearish ini bisa terus berlangsung selama gencatan senjata tetap terjaga,” imbuh mereka.
Harga minyak juga tertekan oleh data resmi AS yang menunjukkan persediaan minyak mentah negara itu turun 3,3 juta barel pekan lalu.
Penurunan tersebut menjadi yang keenam berturut-turut, namun lebih rendah dibanding ekspektasi analis Reuters yang memperkirakan penurunan sebesar 4,1 juta barel.
Persediaan bensin dan bahan bakar distilat AS juga tercatat menurun.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan pasar minyak saat ini masih lebih sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah dibanding penurunan besar persediaan minyak AS yang kembali terjadi pekan ini. (Aldo Fernando)