“Nilai yang sudah kita tetapkan untuk pembangunan conveyor dan total pelabuhannya sekitar Rp200 miliar. Pembangunan ini merupakan kelanjutan dari anggaran yang sudah ditetapkan sebelumnya, dan porsi terbesar memang untuk conveyor,” kata Kahar.
Menurut dia, penggunaan conveyor heavy duty akan mendukung kegiatan produksi dan pengiriman batu bara dari wilayah tambang menuju fasilitas pelabuhan.
Pengembangan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya IATA memperkuat rantai operasional pertambangan, mulai dari kegiatan produksi hingga pengangkutan dan pengiriman batu bara.
Transformasi bisnis tersebut juga berjalan bersamaan dengan perubahan identitas perseroan di bawah pengendali baru, Karya Pacific Group. IATA sebelumnya bernama PT MNC Energy Investments Tbk sebelum berganti nama menjadi PT Karya Pacific Energy Tbk berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Juni 2026.
Masuknya IATA ke dalam ekosistem Karya Pacific Group juga memberikan dukungan terhadap kapabilitas operasional perseroan, termasuk dari sisi fasilitas pelabuhan, alat berat, hingga jasa kontraktor pertambangan.