IDXChannel – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah diperkirakan masih dibayangi volatilitas dalam jangka pendek, di tengah ekspektasi pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Rabu (20/5/2026).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/5/2026), pukul 09.48 WIB, IHSG berfluktuasi tajam sejak awal pembukaan pasar, terbaru turun tipis 0,03 persen ke 6.597, usai sempat merosot ke 6.560,13.
Sehari sebelumnya, IHSG ditutup terkoreksi 1,85 persen setelah sempat tergelincir 4,38 persen selama intraday.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan, pada Selasa (19/5/2026), tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Pada perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah bahkan sempat mendekati level Rp17.700 per USD.
Menurut Rully, pelemahan tajam tersebut dipicu efek rambatan dari aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global.
Meski demikian, investor asing tercatat masih melakukan selective buying pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, mengindikasikan selective positioning.
Menjelang pengumuman RDG BI, konsensus pasar memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen guna menopang stabilitas rupiah.
Namun, Mirae Asset justru memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen dengan pendekatan hawkish hold.
Rully menilai kenaikan suku bunga memiliki efektivitas yang terbatas karena tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor musiman, seperti repatriasi dividen dan kebutuhan musim haji, yang diperkirakan mulai mereda pada Juli hingga Agustus.
Selain itu, kekhawatiran pasar terkait keberlanjutan fiskal dinilai tidak bisa diselesaikan hanya melalui pengetatan moneter.
Mirae memperkirakan BI akan mengandalkan intervensi agresif di pasar valas serta pengelolaan likuiditas, sambil tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Mirae Asset menilai rupiah dan IHSG masih rentan terhadap potensi arus keluar dana asing dalam jangka pendek.
Karena itu, pelaku pasar diminta mencermati implementasi kebijakan non-suku bunga Bank Indonesia sebagai faktor utama stabilisasi pasar keuangan domestik.
RDG BI
Mayoritas ekonom memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (20/5/2026), di tengah tekanan berkepanjangan terhadap rupiah.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters pada periode 11-18 Mei, sebanyak 16 dari 29 ekonom memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga reverse repo tujuh hari (BI-Rate) menjadi 5 persen.
Sementara itu, suku bunga fasilitas simpanan diproyeksi naik menjadi 4 persen dan suku bunga fasilitas pinjaman menjadi 5,75 persen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga muncul setelah rupiah terus melemah sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran pada 28 Februari lalu.
Nilai tukar rupiah tercatat turun sekitar 5 persen sejak konflik dimulai, meski BI rutin melakukan intervensi di pasar valas.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah muncul sebelum konflik geopolitik memanas. Pasar lebih dulu menyoroti kekhawatiran terkait pengelolaan fiskal serta independensi bank sentral.
Ekonom Economist Intelligence Unit, Tay Qi Hang, menilai pelemahan rupiah dalam sebulan terakhir menjadi alasan utama yang mendorong peluang kenaikan suku bunga BI.
“Pada dasarnya, ini mencerminkan rendahnya kepercayaan pasar terhadap langkah-langkah yang diambil BI dan pemerintah untuk melindungi rupiah. Investor menilai upaya tersebut belum cukup,” ujar Tay.
Meski demikian, pandangan ekonom masih terbelah. Hampir separuh responden survei tetap memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.