Sementara itu, suku bunga fasilitas simpanan diproyeksi naik menjadi 4 persen dan suku bunga fasilitas pinjaman menjadi 5,75 persen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga muncul setelah rupiah terus melemah sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran pada 28 Februari lalu.
Nilai tukar rupiah tercatat turun sekitar 5 persen sejak konflik dimulai, meski BI rutin melakukan intervensi di pasar valas.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah muncul sebelum konflik geopolitik memanas. Pasar lebih dulu menyoroti kekhawatiran terkait pengelolaan fiskal serta independensi bank sentral.
Ekonom Economist Intelligence Unit, Tay Qi Hang, menilai pelemahan rupiah dalam sebulan terakhir menjadi alasan utama yang mendorong peluang kenaikan suku bunga BI.