IDXChannel—Dosen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pakar biorefinery limbah hayati, Hanifrahmawan Sudibyo, menilai gas metana yang dihasilkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang berpotensi sebagai energi alternatif.
TPST Bantargebang adalah salah satu penghasil gas metana terbesar kedua di dunia setelah TPA Campo de Mayo di Argentina. Berdasarkan pantauan satelit Carbon Mapper, dua tempat pembuangan sampah ini menghasilkan emisi metana 6 ton lebih per jam.
Temuan itu tercantum dalam laporan Emmett Institute, pusat studi hukum, kebijakan lingkungan, dan perubahan iklim Fakultas Hukum University of California, yang merilis daftar 25 tempat pembuangan sampah dengan produksi metana terbesar sepanjang 2025.
Hanif menjelaskan, metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap peningkatan suhu bumi.
Gas tersebut umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organik dalam kondisi anaerobik atau minim oksigen, seperti pada timbunan sampah organik, kotoran hewan, sedimen rawa, hingga limbah industri pangan berkadar air tinggi.