“Kondisi lembap dan terbatasnya suplai oksigen menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme penghasil metana,” kata Hanif, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, pembentukan metana dilakukan oleh arkea metanogenik, yakni kelompok mikroorganisme anaerob yang berperan pada tahap akhir penguraian bahan organik.
Dalam proses tersebut, senyawa organik kompleks terlebih dahulu diuraikan oleh komunitas mikroba lain menjadi senyawa lebih sederhana seperti asam organik, hidrogen, dan karbon dioksida. Selanjutnya, senyawa tersebut dikonversi oleh arkea metanogenik menjadi gas metana.
Pada kasus TPST Bantargebang, tumpukan sampah organik dalam jumlah besar memicu terbentuknya zona minim oksigen, terutama di bagian dalam dan bawah timbunan sampah.
Kondisi lembap akibat air hujan, rendahnya porositas, serta terbatasnya sirkulasi udara menciptakan lingkungan ideal bagi aktivitas mikroorganisme anaerob, termasuk arkea metanogenik.