Ia menambahkan, tekanan terhadap IHSG tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu oleh pergerakan nilai tukar yang signifikan.
“Tekanan IHSG dimulai dari rupiah yang menembus angka Rp17.000 per USD menuju puncak Rp17.300. Menyusul, terjadi aksi sell-off yang dilakukan oleh investor asing terhadap sektor perbankan,” imbuh dia.
Dalam konteks sektoral, ia melihat dinamika global justru membuka peluang pada sejumlah sektor tertentu.
“Sektor-sektor yang diuntungkan dari kondisi perang di Timur Tengah adalah komoditas,” tutur Michael. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.