IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berpeluang melanjutkan penguatan secara terbatas pada perdagangan pekan depan. Secara teknikal, pergerakan indeks akan menguji area support di level 6.440 dan resistance pada level 6.623.
Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan, pergerakan IHSG pekan depan masih akan dibayangi oleh sejumlah agenda ekonomi dan sentimen eksternal maupun domestik.
"Pada sepekan ke depan, kami perkirakan IHSG berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas, adapun support di 6.440 dan resist 6.623," ujar Herditya kepada IDX Channel, Minggu (13/9/2026).
Herditya menjelaskan, fokus utama pelaku pasar global akan tertuju pada pelaksanaan rapat komite pasar terbuka berjangka atau Federal Open Market Committee (FOMC) terkait penetapan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
"Untuk sentimen diperkirakan, pertama FOMC Meeting perihal suku bunga The Fed, dimana sikap The Fed masih cenderung hawkish setelah adanya kenaikan harga energi dan juga rilis PPI-CPI; kedua, investor masih akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD serta foreign flow di IHSG," kata dia.
Di tengah potensi penguatan terbatas tersebut, Herditya merekomendasikan tiga saham secara teknikal untuk dicermati investor pada pekan depan, yaitu PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) pada area target (Rp1.710–Rp1.765), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) pada kisaran (Rp366–Rp400), serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) pada rentang (Rp980–Rp1.060).
Selain hasil keputusan suku bunga The Fed dan volatilitas nilai tukar rupiah, terdapat beberapa faktor pendukung lain yang berpotensi memengaruhi laju IHSG pekan depan.
Pertama, lonjakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menyentuh level kisaran USD91–USD103 per barel akibat konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memberi tekanan inflasi, sekaligus menjadi katalis bagi saham-saham di sektor energi dan pertambangan.
Sentimen lain, kata dia, adalah pasar akan mencermati rilis data kinerja ekspor-impor dan neraca perdagangan domestik periode terbaru oleh BPS guna melihat ketahanan surplus perdagangan nasional.
"Terakhir, pergerakan arus modal asing di pasar reguler diprediksi masih menjadi penentu arah pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama di sektor perbankan dan infrastruktur," ujar dia.
(Dhera Arizona)