Selain faktor eksternal, kebijakan domestik mengenai skema baru royalti tambang turut memicu aksi jual pada saham-saham komoditas. Tekanan semakin bertambah dengan munculnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap isu kesehatan terkait penemuan kasus virus hantavirus di dalam negeri.
Melihat posisi teknikal saat ini, Andri menilai IHSG sedang berada dalam fase gelombang koreksi yang cukup panjang. Secara jangka pendek, pasar memang sudah jenuh jual (oversold), namun untuk jangka menengah, tren masih menunjukkan sinyal sell on strength.
Untuk perdagangan pekan depan yang berlangsung singkat (tiga hari kerja), Andri memproyeksikan IHSG masih memiliki kecenderungan untuk melemah menuju area support kuat di level terendah sebelumnya.
“Jadi artinya masih pencurungan menuju ke 6.965 sampai dengan 6.876 low kemarinnya menjadi support, sementara resistnya berada di 7.120 sampai dengan 7.238,” ungkapnya.
Andri menyarankan bagi pelaku pasar yang ingin melakukan spekulasi jangka pendek untuk tetap berhati-hati selama indeks bertahan di atas bottom 6.870.
Namun, untuk investasi jangka menengah dan panjang, ia masih bersikap konservatif karena posisi harga saat ini masih berada di bawah rata-rata pergerakan (MA) 20 hingga 200 hari yang berada di level 7.900.
“Tapi kalau negatif market kita akan sell out karena tekniknya sendiri untuk nyaga pendeknya sih sudah oversold ya dari bottom ya di 6.876 sampai dengan 6.917 tapi kalau untuk medium term-nya kita masih tetap sell on strength,” kata Andri.
(Nur Ichsan Yuniarto)