Jika risalah menunjukkan inflasi masih menjadi risiko utama yang membutuhkan pengetatan lebih lanjut, yield Treasury berpotensi kembali naik dan menekan aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.
Sebaliknya, apabila pelemahan pasar tenaga kerja menjadi perhatian yang lebih dominan, ekspektasi penundaan kenaikan suku bunga dapat menguat. Kondisi tersebut berpotensi menekan yield dan dolar AS sehingga menjadi sentimen positif bagi saham dan emerging markets.
Selain FOMC Minutes, investor akan mencermati komentar sejumlah pejabat The Fed, termasuk Williams, Bowman, dan Logan, sepanjang pekan ini. Pernyataan mereka akan menjadi petunjuk apakah bank sentral mulai melihat perlunya menghentikan kenaikan suku bunga atau tetap mempertahankan sikap hawkish dengan narasi higher for longer.
Cadangan Devisa Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, data cadangan devisa juga menjadi perhatian pasar. Kondisi eksternal Indonesia saat ini dihadapkan pada kombinasi yield US Treasury yang tinggi, dolar AS yang kuat, serta ketidakpastian geopolitik.
Posisi cadangan devisa Indonesia saat ini setara dengan sekitar 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.