"Ini merupakan buffer yang cukup kuat. Namun, yang akan menjadi perhatian investor adalah apakah cadangan devisa September tetap terjaga ketika BI melakukan stabilisasi Rupiah di tengah tingginya volatilitas global," kata Imam.
Pergerakan rupiah juga menjadi faktor penting. JISDOR pada 2 Oktober berada di sekitar Rp17.898 per dolar AS, setelah rupiah bergerak di kisaran Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS dalam beberapa hari sebelumnya.
Jika cadangan devisa meningkat atau tetap solid, pasar dapat melihat ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan stabilitas rupiah.
Sebaliknya, penurunan cadangan devisa yang signifikan dapat meningkatkan sensitivitas investor terhadap risiko eksternal, terutama terkait kemampuan BI melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah.
Selain data ekonomi, pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan investor pekan ini.