Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada rapat kebijakan moneter Bank of Japan. BoJ diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,00 persen dari sebelumnya 0,75 persen.
Tidak hanya keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati perkembangan inflasi Jepang sebagai petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
Menurut Imam, ekspektasi sikap hawkish BoJ didorong oleh meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Jika bank sentral Jepang kembali menaikkan suku bunga atau memberikan sinyal pengetatan yang lebih agresif, kondisi tersebut berpotensi memicu penutupan posisi carry trade oleh investor global.
"Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga atau memberi sinyal pengetatan moneter yang agresif, investor berpotensi menutup posisi carry trade mereka, yang dapat memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan global, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia," ujar Imam dalam risetnya, Senin (15/6/2026).