sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Pekan Ini Masih Dibayangi Fluktuasi Rupiah dan Kebijakan The Fed

Market news editor Anggie Ariesta
02/06/2026 08:56 WIB
IHSG pada pekan ini diproyeksi masih dibayangi kemampuan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memulihkan kepercayaan investor.
IHSG Pekan Ini Masih Dibayangi Fluktuasi Rupiah dan Kebijakan The Fed. (Foto: iNews Media Group)
IHSG Pekan Ini Masih Dibayangi Fluktuasi Rupiah dan Kebijakan The Fed. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diproyeksi masih dibayangi kemampuan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memulihkan tingkat kepercayaan investor internasional.

Faktor-faktor fundamental ini menjadi jangkar krusial setelah pasar saham domestik mengalami tekanan minor pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menegaskan bahwa merosotnya indeks dan larinya modal asing dari pasar saham dalam negeri ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.

Dari panggung global, pelaku pasar keuangan tengah mencermati perkembangan eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Tensi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan indikasi mulai mereda seiring dengan kemunculan draf Memorandum of Understanding (MoU) terkait rencana gencatan senjata selama 60 hari yang saat ini menunggu keputusan dari Presiden AS Donald Trump.

"Sentimen tersebut meningkatkan optimisme pasar terhadap prospek perdamaian di kawasan, sehingga mendorong koreksi harga minyak. Dalam satu bulan terakhir, harga minyak Brent tercatat turun sekitar 17 persen, sementara harga minyak WTI melemah sebesar 17,14 persen," kata David Kurniawan dalam hasil risetnya, Selasa (2/6/2026).

Berdasarkan data perdagangan per Jumat (29/5/2026), IHSG mendarat di level 6.127 atau mengalami pelemahan kurang lebih 0,52 persen dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Menariknya, di sepanjang fase koreksi yang berlangsung kurang lebih satu bulan terakhir, pasar reguler mencatatkan aksi lepas portofolio yang masif, di mana arus modal keluar (outflow) investor asing menyentuh angka Rp19,4 triliun selama Mei 2026.

Sebaliknya, tantangan berat justru datang dari lini domestik berupa tekanan hebat pada nilai tukar rupiah yang posisinya mendekati level terendah sepanjang masa, yakni di kisaran Rp17.863 per dolar AS berdasarkan kurs retail BCA per 29 Mei 2026. 

Secara tahun berjalan (Year to Date/YtD), mata uang Garuda telah melemah sebesar 6,6 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terendah di kawasan Asia bersama Rupee India dan Peso Filipina.

"Tekanan berasal dari capital outflow terkait rebalancing MSCI, defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 sebesar USD4 micron (1,09 persen PDB), permintaan valas musiman untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada Kuartal II serta penguatan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed," ungkap David.

Memasuki periode transaksi Juni 2026, fokus perhatian para pelaku pasar diproyeksikan akan bergeser dari sentimen rebalancing indeks MSCI menuju efektivitas bauran kebijakan Bank Indonesia. Meski Bank Indonesia telah mengerek suku bunga acuan ke level 5,25 persen demi meredam gejolak eksternal, pasar masih memantau seberapa ampuh langkah tersebut dalam memangkas volatilitas kurs dan menahan arus keluar modal portofolio.

Apabila mata uang Rupiah mampu memperlihatkan tanda-tanda stabilisasi dalam beberapa pekan ke depan, persepsi risiko pasar berpotensi membaik. Kondisi tersebut dinilai akan membuka ruang pembalikan arah bagi masuknya kembali aliran dana asing (capital inflow) ke pasar ekor saham maupun obligasi domestik.

Di samping itu, David menambahkan bahwa kompas kebijakan moneter Amerika Serikat akan tetap bertindak sebagai katalis utama bagi pergerakan aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni ini.

"Sikap The Fed yang masih cenderung hawkish berpotensi mempertahankan kekuatan dolar AS dan membatasi arus modal menuju pasar negara berkembang. Sebaliknya, apabila terdapat indikasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda dan peluang penurunan suku bunga semakin terbuka pada paruh kedua tahun ini, aset-aset berisiko termasuk pasar saham Indonesia dapat memperoleh sentimen positif,” kata David.

Berikut beberapa saham pilihan IPOT yang bisa menjadi perhatian investor pekan ini:
1. Buy GGRM (Current Price: Rp17.000, Entry: Rp17.000, Target Price: Rp18.525 (8,97 persen), Stop Loss: Rp16.275 (-4,26 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2.1).

  1. Buy MAPI (Current Price: Rp1.495, Entry: Rp1.495, Target Price: Rp1.600 (7,02 persen), Stop Loss: Rp1.450 (-3,01 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2.3).
  2. Buy ICBP (Current Price: Rp7.100, Entry: Rp7.100, Target Price: Rp7.525 (5,99 persen), Stop Loss: Rp6.875 (-3,17 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:1.9).
  3. Buy Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC).

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement