Merespons langkah tersebut, juru bicara MSCI mengatakan kepada Bloomberg bahwa MSCI akan terus berinteraksi dengan otoritas dan pelaku pasar di Indonesia serta memantau perkembangan pasar secara berkelanjutan.
Sebelumnya, kekhawatiran MSCI terhadap investability pasar Indonesia telah memicu tekanan hebat di pasar saham domestik, dengan IHSG anjlok 8,3 persen dalam dua hari perdagangan.
Tekanan semakin besar setelah Goldman Sachs menurunkan pandangan pasar Indonesia menjadi underweight. Goldman memperkirakan potensi arus keluar dana lebih dari USD13 miliar atau sekitar Rp218 triliun jika status Indonesia diturunkan dari emerging market menjadi frontier market.
Potensi arus keluar tersebut mencakup penjualan sekitar USD7,8 miliar dari dana berbasis indeks MSCI, serta tambahan USD5,6 miliar jika FTSE Russell turut meninjau ulang metodologi free float.
Risiko ini dinilai dapat mendorong investor jangka panjang melakukan rebalancing portofolio, sekaligus membuka ruang bagi arus spekulatif dari hedge fund.
Meskipun MSCI memberikan waktu hingga Mei 2026, Stockbit pada Kamis (29/1/2026) menilai perkembangan terkait status pasar modal RI bisa diumumkan lebih awal, mengingat SRO menargetkan penyelesaian isu transparansi pada Maret 2026.