sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ketika Pasar Berbicara Pelan: IHSG, Rupiah, dan Kepercayaan yang Harus Dibayar dengan Kerja

Economia editor Rahmat Fiansyah
29/01/2026 16:30 WIB
Pasar modal Indonesia bergejolak setelah MSCI mengumumkan pembekuan bagi saham-saham Indonesia.
Pasar modal Indonesia bergejolak setelah MSCI mengumumkan pembekuan bagi saham-saham Indonesia. (Foto: Ist)
Pasar modal Indonesia bergejolak setelah MSCI mengumumkan pembekuan bagi saham-saham Indonesia. (Foto: Ist)

OPINI

Azis Subekti

Pasar modal tidak pernah jatuh tanpa sebab, tetapi ia juga tidak selalu jatuh karena ekonomi runtuh. Ketika IHSG anjlok tajam, yang sesungguhnya bergerak bukan hanya angka di papan perdagangan, melainkan sesuatu yang jauh lebih rapuh: rasa percaya. Kepercayaan itu tidak kasatmata, tidak tercatat di neraca negara, tetapi begitu ia goyah, uang bergerak lebih cepat daripada kata-kata penenang.

Gejolak ini dipicu oleh penilaian MSCI, tetapi menyebutnya semata sebagai tekanan eksternal justru membuat kita menghindari cermin. Pasar global tidak sedang memusuhi Indonesia. Ia sedang membaca kita, seperti orang membaca buku. Dan persoalannya bukan pada ceritanya, melainkan pada halaman-halaman yang sulit dibaca: data yang tidak selalu sinkron, aturan yang terasa lentur, dan kepastian yang kerap datang terlambat. Dalam dunia pasar, ketidakjelasan adalah bunyi alarm. Dan ketika alarm berbunyi, refleks paling manusiawi adalah menjauh.

Perlu ditegaskan sejak awal agar tidak menyesatkan publik: ini bukan krisis ekonomi nasional. Tidak ada antrean panjang di toko, tidak ada mesin yang berhenti berputar. Namun justru karena itulah peristiwa ini penting. Ia menunjukkan bahwa sebuah negara bisa tetap berjalan, tetapi pasar modalnya kehilangan kepercayaan. Dan kehilangan kepercayaan selalu lebih mahal daripada kehilangan angka pertumbuhan.

Guncangan di bursa segera merembet ke kurs rupiah. Mekanismenya sederhana, bahkan nyaris banal. Saham dijual, rupiah ditukar, modal pergi. Rupiah pun tertekan, bukan karena fondasi ekonomi tiba-tiba rapuh, melainkan karena arus keluar yang terjadi bersamaan dan emosional. Di titik inilah Bank Indonesia berdiri sebagai penyangga, bukan untuk menantang pasar, tetapi untuk menjaga agar kegelisahan tidak berubah menjadi kepanikan berantai. Pelemahan rupiah dalam konteks ini adalah bayangan dari masalah utama, bukan sumbernya. Namun bayangan yang dibiarkan terlalu lama bisa tampak lebih besar daripada bendanya sendiri.

Akar persoalan sesungguhnya tidak rumit, hanya sering dihindari. Pasar global hidup dari sistem, bukan dari niat baik. Ia tidak peduli seberapa keras kita menyatakan komitmen, selama data masih menyisakan celah tafsir. Kepemilikan saham, free float, keterbukaan informasi—semuanya bukan sekadar istilah teknis, melainkan bahasa kepercayaan. Begitu bahasa itu tidak konsisten, pasar berhenti mendengarkan penjelasan panjang. Ia memilih pergi.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement