AALI
9675
ABBA
290
ABDA
6325
ABMM
1385
ACES
1345
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
193
ADRO
2220
AGAR
362
AGII
1445
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
70
AIMS
398
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1120
AKRA
810
AKSI
690
ALDO
1350
ALKA
334
ALMI
290
ALTO
248
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.56
-0.34%
-1.74
IHSG
6614.06
-0.47%
-30.99
LQ45
944.82
-0.34%
-3.20
HSI
24112.78
-0.44%
-105.25
N225
28257.25
-0.27%
-76.27
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,330
Emas
836,902 / gram

IHSG Terus Merosot Dalam Tiga Hari Terakhir, Ini Toh Penyebabnya

MARKET NEWS
Advenia Elisabeth/MPI
Kamis, 02 Desember 2021 10:26 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan dalam tiga hari terakhir perdagangan.
IHSG Terus Merosot Dalam Tiga Hari Terakhir, Ini Toh Penyebabnya. (Foto: MNC Media)
IHSG Terus Merosot Dalam Tiga Hari Terakhir, Ini Toh Penyebabnya. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan dalam tiga hari terakhir perdagangan. Bahkan pada Jumat (26/11) lalu mengalami penurunan signifikan hingga 2 persen.

Menanggapi hal ini, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi PT Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus mengatakan bahwa munculnya varian baru Covid-19, Omicron menjadi faktor pemicu melemahnya indeks beberapa hari belakangan ini.

"Di akhir bulan di mana sebenarnya menjadi bulan yang penuh dengan harapan tetapi justru saat ini ketidakpastian meningkat karena kalau kita lihat sebetulnya bukan karena taper tantrum dan bukan karena dari kenaikan tingkat suku bunga the the fed. Tetapi lebih kepada munculnya omicron," ujar Nico dalam diskusi di IDX Channel, Kamis (2/12/2021).

Menurutnya, datangnya varian omicron ini menjadi salah satu pendorong para pelaku pasar khawatir dengan pergerakan IHSG. Sebab, omicron ini akan memberikan potensi adanya lockdown yang akan mengganggu pemulihan ekonomi.

"Omicron ini menjadi salah satu faktor yang membuat kita semua itu khawatir, kenapa demikian? karena Omicron ini akan memberikan potensi untuk adanya lockdown lagi dan tentu prospek pemulihan ekonomi akan terdampak," katanya.

Adapun faktor lain, yakni pernyataan pimpinan Federal Reserve AS Jerome Powell yang mengatakan bahwa para pembuat kebijakan harus siap merespon kemungkinan peningkatan inflasi berlanjut pada semester kedua tahun depan.

"Kalau kita lihat Jerome Powell juga tidak sungkan lagi mengatakan bahwa inflasi tidak lagi dalam kata sementara, tetapi lebih terlihat sebagai konsisten. Ini yang membuat the fed tidak sungkan untuk mempercepat  taper tantrum dan menaikkan suku bunga pada tahun depan. Ini yang buat kita itu kian semakin pelik aja. Kurang lebih begitu kondisi market kita," jelas Nico.

Ia juga menjelaskan bahwasanya varian omicron ini akan memberikan dampak bagi bursa domestik. Ditambah lagi dengan pernyataan dari perusahaan-perusahaan farmasi Amerika Serikat yang mengatakan bahwa membutuhkan waktu tiga bulan untuk membuat vaksin yang baru.

"Yang bikin cemas lagi adalah perusahaan-perusahaan farmasi itu mengatakan membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan untuk bisa membuat vaksin baru. Oleh karena itu, indeks kita juga cukup ragu untuk menguat, tapi secara siklus, Desember adalah bulan yang memposisikan indeks berada di zona hijau. Jadi siklus ini diuji dengan melawan ketidakpastian," tukasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD