Selain itu, tingginya porsi kredit yang belum dicairkan (undisbursed loan) juga menunjukkan dunia usaha masih cenderung menahan ekspansi di tengah ketidakpastian.
Tekanan tambahan datang dari pasar energi. Harga minyak dunia yang masih relatif tinggi akibat konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus membebani nilai tukar rupiah.
Rupiah berada di level Rp17.858 per USD pada Selasa (2/6), masih di kisaran level terendah sepanjang masa.
Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan kondisi ekonomi domestik mulai membaik. BRI Danareksa mencatat indeks PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei dari 49,1 pada bulan sebelumnya.
Kenaikan ini menandakan aktivitas manufaktur kembali berada di zona stabil setelah sempat mengalami kontraksi.