Seturut itu, Hendra mengatakan, jika harga minyak mendekati USD100 dan disertai gangguan distribusi fisik di Selat Hormuz, pasar bisa memasuki fase risk off yang lebih dalam. Secara teknikal, area 7.500–7.600 menjadi zona penopang psikologis penting.
"Jika ketegangan mereda dan rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound bertahap ke kisaran 7.900–8.100 pada akhir Maret. Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko menguji kembali area 7.400," tutur Hendra.
Di sisi lain, tekanan pada bursa Indonesia semakin bertambah setelah lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit tetap di level investment grade BBB.
Hendra menilai soal perubahan outlook ini memang bukan penurunan rating, namun pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan.
"Dalam kondisi global yang sudah diliputi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, perubahan outlook ini menjadi sentimen tambahan yang mempercepat aksi jual, khususnya dari investor asing yang sensitif terhadap risiko makro," ujarnya.