Analis Guotai Junan menilai, meskipun penurunan kuota bukan hal baru, kondisi saat ini menunjukkan realisasi yang lebih nyata di lapangan.
Hal ini mendorong kembalinya dana spekulatif ke pasar, terutama karena tambahan kuota yang diharapkan belum terealisasi.
Dari sisi lain, harga juga ditopang oleh kelangkaan sulfur yang masih berlanjut, seiring penutupan Selat Hormuz akibat mandeknya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sebelum konflik pecah, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar separuh pasokan sulfur laut global.
Kondisi tersebut memicu lonjakan harga sulfur dan berpotensi menekan produksi di kalangan pengolah nikel secara global. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.