Sejak menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di Rp5.700 pada 2 Januari 2026, saham UDNG kini telah ambles lebih dari 91 persen.
Bila dihitung sejak penutupan akhir tahun 2025 di Rp5.200, koreksi tahun berjalan (year-to-date) saham ini mencapai 90,65 persen.
Padahal, sepanjang 2025 saham ini sempat menjadi salah satu penggerak harga tertinggi di BEI, melesat lebih dari 12.000 persen secara year-to-date hingga menutup tahun di Rp5.200.
Di tengah gejolak harga, kinerja keuangan UDNG turut memburuk.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026 yang belum diaudit, perseroan membukukan rugi bersih Rp3,60 miliar untuk semester I-2026, berbalik dari laba bersih Rp153,24 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Penjualan tercatat turun 8,3 persen secara tahunan menjadi Rp11,66 miliar dari Rp12,72 miliar, sementara laba kotor berbalik menjadi rugi kotor Rp2,03 miliar dari sebelumnya untung Rp1,36 miliar.