Menurut Agus, ETF emas berpotensi menjadi produk menarik bagi investor karena memberikan kemudahan untuk mendapatkan eksposur terhadap emas tanpa harus memegang emas secara fisik. Selain itu, instrumen tersebut berbentuk efek yang diperdagangkan di pasar sehingga memberikan likuiditas kepada investor.
“Harusnya ini satu produk yang menarik buat investor, karena memudahkan kalau investor beli instrumen investasi emas tanpa harus memegang dalam bentuk efek. Dan itu sangat likuid juga di market,” katanya.
Strategi pengembangan produk tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya Avrist Group memperkuat layanan keuangan melalui One Avrist Synergy. Inisiatif ini menyatukan empat entitas dalam grup dengan pendekatan “One Avrist, One Solution”, mencakup proteksi jiwa, asuransi umum, pengelolaan investasi, hingga perencanaan pensiun.
Per Juni 2026, Avrist Assurance mencatat aset Rp5,94 triliun dan laba bersih Rp122,7 miliar, AVRAM mengelola AUM Rp3,56 triliun dari 57.473 investor ritel dan 135 investor institusional, sementara DPLK Avrist memiliki dana kelolaan Rp1,3 triliun, tumbuh 5,64 persen secara tahunan.
(Shifa Nurhaliza Putri)