“Saya pikir kenyataan mulai disadari pasar. Tidak semua barel minyak akan keluar dari Teluk dalam satu atau dua pekan ke depan. Kapasitas pengiriman juga tidak bisa langsung dipaksa kembali ke level sebelum perang. Selama situasinya masih berisiko, setiap pemilik kapal menghadapi risiko kapalnya diserang saat melintasi selat tersebut,” kata Direktur Futures Energi di Mizuho, Bob Yawger, dikutip Reuters.
Menurut Yawger, keberadaan ranjau di perairan serta perusahaan asuransi yang belum sepenuhnya kembali mendukung aktivitas pelayaran juga menjadi faktor yang membebani lalu lintas melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, produsen energi Timur Tengah tetap melanjutkan aktivitas pemuatan minyak dan LNG meskipun terjadi serangan baru terhadap kapal di Selat Hormuz serta meningkatnya kembali serangan antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir, berdasarkan data pelayaran.
Raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, kembali melakukan pemuatan minyak mentah pada Jumat di terminal Ras Tanura, yang berada di sebelah barat Selat Hormuz, setelah aktivitas tersebut dihentikan selama hampir empat bulan.
Aktivitas pemuatan tetap berlangsung meskipun sebuah helikopter milik perusahaan jatuh pada Minggu di Ras Tanura dan menewaskan 14 warga negara. Penyebab kecelakaan tersebut masih belum diketahui. (Aldo Fernando)