Menurut Rendy, laba BBCA pada 2025 lalu tercatat jauh lebih besar dibanding total harga perusahaan (market cap) dari puluhan bank menengah yang melantai di bursa.
Tak hanya itu, BBCA memiliki dana murah (CASA) yang cukup melimpah, efisiensi operasional, dan memiliki nasabah yang sangat loyal.
"Bukan hanya fundamentalnya saja yang kuat, tapi benar-benar 'anti-badai'," ujar Rendy.
Sebagai bank jumbo, BBCA saat ini sedang mengalami anomali harga saham yang relatif langka, di mana saat laba perusahaan terus mencetak rekor fantastis, harga sahamnya justru terus turun dalam porsi yang cukup signifikan.
Karenanya, Rendy menyebut bahwa fenomena itu sebagai salah satu sinyal beli, seperti halnya 'bom waktu capital gain' yang tinggal menunggu pemicu untuk meledak.