Secara historis, menurut Rendy, pasar selalu menghargai kualitas BBCA dengan valuasi premium. Sebagai penguasa pasar, saham ini biasanya melenggang santai di tingkat rasio Price to Book Value (PBV) normalnya di kisaran 4x hingga 5x.
Namun, lantaran dipicu kepanikan sesaat di bursa global dan rotasi sektor, harga saham BBCA seolah dipaksa turun drastis.
"Ini adalah fenomena undervalued yang sangat langka untuk saham sekelas kasta tertinggi (blue chip super). Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza," ujar Rendy.
Karenanya, dengan analisa tersebut, Rendy memproyeksikan bahwa saat kepanikan pasar mereda, harga BBCA tidak hanya akan berjalan merangkak, tapi berlari kencang kembali menuju normalisasi valuasinya di level PBV 4x.
Sedangkan potensi lonjakan keuntungan (capital gain)terjadi dengan sangat masif bagi siapa pun yang berani mengambil posisi di bawah.
Rendy pun mengimbau pada para investor untuk mencermati kinerja BBCA kuartal I/2026 yang akan segera dirilis ke publik.