sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kinerja Melambat di 2025, RMK Energy (RMKE) Bidik Pemulihan Lewat Ekspansi Jalur Hauling

Market news editor Anggie Ariesta
17/01/2026 06:00 WIB
PT RMK Energy Tbk (RMKE) memberikan penjelasan resmi.
Kinerja Melambat di 2025, RMK Energy (RMKE) Bidik Pemulihan Lewat Ekspansi Jalur Hauling. (Foto: Inews MEdia Group)
Kinerja Melambat di 2025, RMK Energy (RMKE) Bidik Pemulihan Lewat Ekspansi Jalur Hauling. (Foto: Inews MEdia Group)

IDXChannel – PT RMK Energy Tbk (RMKE) memberikan penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penurunan kinerja keuangan yang tercatat dalam laporan per 30 September 2025. 

Emiten infrastruktur logistik dan perdagangan batu bara ini mengakui adanya tekanan pada pendapatan dan arus kas operasional, namun optimistis akan tren perbaikan di awal 2026.

Berdasarkan laporan keuangan tersebut, pendapatan RMKE menyusut dari Rp1,75 triliun pada September 2024 menjadi Rp1,12 triliun pada periode yang sama di 2025.

Sekretaris Perusahaan RMKE, Muhtar menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh faktor eksternal global.

“Penurunan terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari penjualan batu bara pada semester pertama Tahun 2025 akibat dari penurunan harga batu bara dan menurunnya permintaan Batubara dari China akibat dari ketidakjelasan perekonomian global dikarenakan isu perang dagang,” jelas Muhtar dalam keterbukaan informasi, dikutip Jumat (16/1/2026).

Menghadapi perlambatan tersebut, manajemen RMKE telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah mengalihkan fokus pasar ke domestik yang kini mulai menunjukkan hasil positif. 

Muhtar menyebutkan bahwa pada kuartal keempat 2025, penjualan batu bara perusahaan telah kembali normal dan tren peningkatan tersebut terus berlanjut hingga awal tahun 2026.

Selain itu, RMKE menggenjot volume jasa logistik melalui jalan hauling yang telah terhubung dengan beberapa tambang baru seperti WSL, DBU, dan MME.

“Pada tahun ini Perseroan akan menjajaki tambang-tambang potensial lainnya untuk menggunakan jasa Perseroan. Semua hal ini akan meningkatkan volume dan pada akhirnya juga meningkatkan efisiensi dimana biaya tetap Perseroan akan dibebankan untuk volume yang lebih besar,” ungkap Muhtar.

Perusahaan juga melakukan investasi pada infrastruktur dengan menerapkan lapisan chipseal di jalan hauling untuk meningkatkan kapasitas angkut dan efisiensi operasional.

BEI juga menyoroti kondisi kas operasional RMKE yang berbalik dari surplus Rp159 miliar menjadi defisit Rp65 miliar, serta adanya peningkatan persediaan dari Rp32 miliar menjadi Rp105 miliar. 

Muhtar mengklarifikasi bahwa hal ini bersifat temporer karena adanya perbedaan waktu (timing) antara pengeluaran dan penerimaan kas.

“Kas operasional negatif... terutama dikarenakan adanya peningkatan pada persediaan dan piutang usaha dimana beberapa kontrak trading batu bara baru terselesaikan di kuartal ke empat, dimana pembayaran pembelian batu bara telah dilakukan di kuartal ketiga sedangkan penerimaan penjualan batu bara baru masuk di kuartal keempat,” tambahnya.

Di tengah performa keuangan yang melambat pada kuartal ketiga 2025, harga saham RMKE justru terpantau mengalami kenaikan signifikan. Terkait hal ini, manajemen menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada informasi material internal yang menjadi pemicu pergerakan harga tersebut.

Muhtar menegaskan bahwa perseroan selalu bersikap konservatif dalam kebijakan pinjaman, termasuk penggunaan fasilitas cerukan (overdraft) yang dinilai lebih fleksibel untuk mendukung likuiditas operasional harian dengan biaya bunga yang lebih efisien. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement