Dengan mekanisme tersebut, fluktuasi nilai tukar dolar terhadap rupiah tidak memberikan tekanan terhadap bisnis NCKL. Sebaliknya, eksposur pendapatan yang berbasis dolar membuat perseroan relatif terlindungi dari pelemahan nilai tukar rupiah.
"Oleh karena itu, secara keseluruhan penguatan nilai tukar USD tidak memberikan dampak negatif bagi Perseroan," ujar manajemen.
Pada kuartal I-2026, Harita Nickel membukukan laba bersih sebesar Rp2,71 triliun, melonjak 63,7 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya Rp1,65 triliun.
Namun, pendapatan perusahaan tercatat turun 4,5 persen menjadi Rp6,81 triliun dari periode sebelumnya Rp7,12 triliun.
(DESI ANGRIANI)