Selain properti, bisnis perhotelan SSIA juga turun 50 persen menjadi Rp500,8 miliar. Penurunan ini lebih disebabkan akibat renovasi Hotel Paradisus by Melia Bali yang sebelumnya bernama Melia Bali Hotel.
Sementara itu, segmen konstruksi melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan moderat. Pendapatan dari bisnis tersebut tumbuh 7,2 persen menjadi Rp3,6 triliun.
Seiring penurunan pendapatan, laba kotor SSIA juga melemah 48 persen menjadi Rp916 miliar. Tekanan margin terlihat di seluruh lini usaha, kecuali konstruksi yang mencatat pertumbuhan laba kotor 2,9 persen. Laba kotor dari bisnis properti turun 61,2 persen dan segmen perhotelan turun 58,4 persen.
EBITDA SSIA juga melemah dari Rp1,05 triliun pada 2024 menjadi Rp248 miliar. Hal ini disebabkan melemahnya total pendapatan serta kontribusi EBITDA negatif dari perhotelan yang mencatat rugi EBITDA Rp79,6 miliar.
Dari sisi bottom line, SSIA rugi Rp89,4 miliar sepanjang 2025, berbalik dari laba bersih sebesar Rp234,2 miliar pada 2024. Secara rinci, bisnis properti mencatat laba Rp93,9 miliar, perhotelan rugi Rp163,2 miliar, dan konstruksi laba Rp175,9 miliar.