sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kinerja Surya Internusa (SSIA) Tertekan, Penjualan Lahan Anjlok

Market news editor Rahmat Fiansyah
07/04/2026 20:35 WIB
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatat pelemahan kinerja pada tahun lalu imbas penurunan bisnis properti dari kawasan industri.
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatat pelemahan kinerja pada tahun lalu imbas penurunan bisnis properti dari kawasan industri. (Foto: Ist)
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatat pelemahan kinerja pada tahun lalu imbas penurunan bisnis properti dari kawasan industri. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatat pelemahan kinerja pada tahun lalu imbas penurunan bisnis properti dari kawasan industri. Penjualan lahan milik perseroan di Subang, Jawa Barat, turun tajam setelah pada tahun sebelumnya melesat akibat efek pabrik BYD.

SSIA membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp4,43 triliun, turun 30 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp6,31 triliun. Segmen properti mencatat kontraksi paling dalam dengan pendapatan anjlok 71 persen dari Rp2,26 triliun menjadi Rp665 miliar.

"Penurunan ini terutama disebabkan oleh perubahan dalam pengakuan penjualan lahan secara akuntansi serta keputusan investor yang lebih berhati-hati," kata manajemen SSIA melalui keterangan resmi, Selasa (7/4/2026).

Pada 2025, anak usaha SSIA, PT Suryacipta Swadaya (SCS) meraih penjualan lahan 46,9 hektare (ha) senilai Rp899,4 miliar dari Suryacipta Karawang dan Subang Smartpolitan. Angka ini turun 71 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp2 triliun atau 162,4 ha.

Penurunan penjualan lahan itu tidak terlepas dari dampak adanya transaksi penjualan lahan BYD di Subang Smartpolitan yang bersifat satu kali (one-off). Sementara backlog penjualan lahan SCS mencapai 58,7 ha senilai Rp964,1 miliar.

Selain properti, bisnis perhotelan SSIA juga turun 50 persen menjadi Rp500,8 miliar. Penurunan ini lebih disebabkan akibat renovasi Hotel Paradisus by Melia Bali yang sebelumnya bernama Melia Bali Hotel. 

Sementara itu, segmen konstruksi melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan moderat. Pendapatan dari bisnis tersebut tumbuh 7,2 persen menjadi Rp3,6 triliun.

Seiring penurunan pendapatan, laba kotor SSIA juga melemah 48 persen menjadi Rp916 miliar. Tekanan margin terlihat di seluruh lini usaha, kecuali konstruksi yang mencatat pertumbuhan laba kotor 2,9 persen. Laba kotor dari bisnis properti turun 61,2 persen dan segmen perhotelan turun 58,4 persen.

EBITDA SSIA juga melemah dari Rp1,05 triliun pada 2024 menjadi Rp248 miliar. Hal ini disebabkan melemahnya total pendapatan serta kontribusi EBITDA negatif dari perhotelan yang mencatat rugi EBITDA Rp79,6 miliar.

Dari sisi bottom line, SSIA rugi Rp89,4 miliar sepanjang 2025, berbalik dari laba bersih sebesar Rp234,2 miliar pada 2024. Secara rinci, bisnis properti mencatat laba Rp93,9 miliar, perhotelan rugi Rp163,2 miliar, dan konstruksi laba Rp175,9 miliar.

SSIA mencatat kas dan setara kas Rp1,42 triliun, turun 12 persen dibandingkan akhir 2024 yang sebesar Rp1,61 triliun. Penurunan ini imbas akuisisi lahan pada kuartal IV-2025 serta pembayaran renovasi hotel Paradisus by Melia Bali.

Utang berbunga juga meningkat 41 persen menjadi Rp2,19 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) tercatat 27 persen.

"Memasuki 2026, perseroan memperkirakan penjualan lahan kawasan indsutri akan kembali normal dengan tetap mengedepankan pendekatan yang konservatif mengingat meningkatnya tensi geopolitik yang berpotensi menekan minat investasi global," katanya.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement