Di kawasan Asia, dolar Australia yang kerap menjadi indikator sentimen global juga melemah 0,43 persen ke USD0,6993, sementara dolar Selandia Baru turun 0,26 persen ke USD0,5819.
Sementara itu, lonjakan inflasi akibat harga energi juga mendorong perubahan ekspektasi kebijakan moneter global. Federal Reserve (The Fed) kini diperkirakan tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, berbeda dengan ekspektasi sebelumnya.
Sebaliknya bank sentral utama lainnya mulai menunjukkan sikap lebih hawkish. European Central Bank dan Bank of England mempertahankan suku bunga, namun memberikan sinyal kewaspadaan terhadap inflasi. Bahkan Bank of Japan membuka peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik mendekati level tertinggi delapan bulan di kisaran 4,415 persen mencerminkan meningkatnya kekhawatiran inflasi.
(DESI ANGRIANI)