Pertumbuhan uang beredar luas atau M2 melambat menjadi 8,7 persen secara tahunan pada Juni 2026 dari 10,8 persen pada Mei 2026.
Sebaliknya, pertumbuhan kredit tetap kuat, terutama pada segmen korporasi yang tumbuh 19,3 persen dan kredit investasi sebesar 22,5 persen.
Kredit kepada badan usaha milik negara (BUMN) bahkan tumbuh 29,9 persen secara tahunan. Sementara itu, pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hanya sekitar 1 persen dan kredit rumah tangga 3,5 persen.
Menurut Posmarito, kondisi tersebut menunjukkan permintaan kredit masih belum merata. Pertumbuhan terutama terkonsentrasi pada korporasi dan investasi, sementara kredit UMKM serta rumah tangga masih relatif lemah.
Di sisi pendanaan, terdapat dua sumber likuiditas yang semakin terlihat, yakni penciptaan deposito secara organik dari sektor swasta dan likuiditas yang berasal dari kebijakan pemerintah maupun insentif Bank Indonesia (BI).