Rudy mengungkapkan, laba bersih divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi menurun 79 persen menjadi Rp408 miliar. Pada periode ini, PT United Tractors Tbk (UNTR) mengakui non-recurring charges sebesar Rp723 miliar pada bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi.
Penurunan kinerja terutama disebabkan tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe dan dampak terhadap permintaan pelanggan atas alat berat dan jasa kontraktor pertambangan akibat alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah pada 2026.
Penjualan alat berat Komatsu menurun 20 persen menjadi 1.107 unit, terutama didorong oleh penurunan permintaan dari sektor tambang.
Selanjutnya, laba bersih divisi Otomotif & Mobilitas ASII meningkat 4 persen menjadi Rp2,4 triliun dari Rp2,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Capaian ini didukung oleh kinerja bisnis mobilitas dan komponen, meskipun volume penjualan mobil lebih rendah.