Secara kumulatif, laba bersih MEDC pada 1H26 diperkirakan mencapai sekitar USD216 juta, tumbuh 148 persen y-y atau setara 56 persen dari proyeksi laba bersih sepanjang 2026.
Selain kinerja operasional, BRI Danareksa melihat harga minyak yang masih tinggi menjadi katalis bagi MEDC. Harga Brent bertahan di sekitar USD100 per barel sejak Juli 2026.
Di sisi lain, cadangan strategis minyak Amerika Serikat (AS) telah turun ke sekitar 286 juta barel, level terendah sejak November 1982. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pasar minyak masih berada dalam kondisi yang relatif ketat.
Menurut BRI Danareksa, kombinasi operasi O&G yang solid, harga minyak yang kokoh, serta kontribusi AMMN yang mulai signifikan menciptakan beberapa pendorong pemulihan laba MEDC.
Prospek pertumbuhan produksi juga dinilai tetap terbuka dengan sejumlah proyek yang berjalan sesuai rencana, termasuk Senoro, Bualuang, dan Sambar. Pipeline tersebut memberikan visibilitas terhadap pertumbuhan produksi MEDC ke depan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.