IDXChannel - PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mencatat laba bersih sebesar Rp3,7 triliun pada semester I-2026, turun 33 persen secara tahunan. Penurunan tersebut terjadi akibat meningkatnya kerugian akibat selisih kurs yang belum terealisasi akibat kegiatan pendanaan.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS mendongkrak beban keuangan ICBP hingga 216 persen menjadi Rp4,09 triliun. Hal ini dipicu rugi atas selisih kurs yang menembus Rp2,9 triliun, naik 1.200 persen dari sebelumnya Rp227 miliar.
Dari sisi top line, penjualan neto ICBP tumbuh 11 persen menjadiRp41,86 triliun pada semester I-2026. Laba usaha naik 8 persen menjadi Rp9,15 persen dengan margin tetap sehat di kisaran 21,9 persen.
Direktur Utama dan CEO PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Anthoni Salim mengatakan, kinerja perseroan pada paruh pertama tahun 2026 positif di tengah situasi pasar yang dinamis.
"Di tengah situasi pasar yang masih penuh ketidakpastian, kami tetap waspada. Kami akan terus menyelaraskan produksi dengan kebutuhan pasar serta mengelola biaya secara efektif dan efisien untuk menjaga profitabilitas dan arus kas," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).
Berbeda dengan laporan laba rugi, laporan arus kas (cashflow) ICBP menunjukkan cerita yang berbeda. Arus kas dari aktivitas operasi (operating cashflow) meningkat 17 persen dari Rp4,84 triliun menjadi Rp5,67 triliun.
Hal ini disebabkan oleh kenaikan penerimaan kas dari pelanggan sebesar 13 persen menjadi Rp40 triliun. Kenaikan penerimaan itu mampu menutupi kenaikan dari pembayaran kas kepada pemasok, karyawan, hingga pajak.
Selain itu, ICBP juga cenderung konservatif dalam merealisasikan belanja modal. Hal ini tercermin dari penurunan pada penambahan aset tetap lebih dari 50 persen menjadi Rp1,14 triliun di semester I-2026.
Dalam enam bulan, kas ICBP juga bertambah Rp4,32 triliun, naik lebih dari dua kali lipat daripada semester I-2025 yang naik Rp2 triliun. Alhasil, posisi kas dan setara kas ICBP mencapai Rp33,5 triliun.
Secara umum, aset ICBP naik 6,2 persen menjadi Rp143,98 triliun. Selain faktor kenaikan kas, ICBP juga mencatat kenaikan piutang usaha menjadi Rp12 triliun dari Rp9,8 triliun di akhir 2025. Adapun persediaan cenderung stabil di angka Rp7,7 triliun.
Liabilitas juga meningkat 11 persen menjadi Rp68,7 triliun. Hal ini disebabkan oleh kenaikan utang usaha menjadi Rp5,4 triliun dan munculnya utang dividen sebesar Rp4,34 triliun. Utang obligasi juga ikut naik menjadi Rp48,9 triliun.
Hingga akhir Juni, ekuitas tumbuh 2,4 persen menjadi Rp52,77 triliun, terutama akibat kenaikan saldo laba seiring konsistensi perseroan menghasilkan laba setiap kuartal.
(Rahmat Fiansyah)