Berbeda dengan laporan laba rugi, laporan arus kas (cashflow) ICBP menunjukkan cerita yang berbeda. Arus kas dari aktivitas operasi (operating cashflow) meningkat 17 persen dari Rp4,84 triliun menjadi Rp5,67 triliun.
Hal ini disebabkan oleh kenaikan penerimaan kas dari pelanggan sebesar 13 persen menjadi Rp40 triliun. Kenaikan penerimaan itu mampu menutupi kenaikan dari pembayaran kas kepada pemasok, karyawan, hingga pajak.
Selain itu, ICBP juga cenderung konservatif dalam merealisasikan belanja modal. Hal ini tercermin dari penurunan pada penambahan aset tetap lebih dari 50 persen menjadi Rp1,14 triliun di semester I-2026.
Dalam enam bulan, kas ICBP juga bertambah Rp4,32 triliun, naik lebih dari dua kali lipat daripada semester I-2025 yang naik Rp2 triliun. Alhasil, posisi kas dan setara kas ICBP mencapai Rp33,5 triliun.
Secara umum, aset ICBP naik 6,2 persen menjadi Rp143,98 triliun. Selain faktor kenaikan kas, ICBP juga mencatat kenaikan piutang usaha menjadi Rp12 triliun dari Rp9,8 triliun di akhir 2025. Adapun persediaan cenderung stabil di angka Rp7,7 triliun.