“Ketidakpastian yang berkepanjangan berpotensi menekan kemampuan bayar dan daya beli masyarakat, terutama di segmen konsumen, sehingga risiko penurunan kualitas aset perlu diwaspadai,” tulis Edward dalam risetnya.
Di sisi lain, kinerja laba bank besar masih menunjukkan daya tahan.
Laba kumulatif lima bank besar tumbuh 10,7 persen secara tahunan hingga Februari 2026, ditopang oleh penurunan biaya kredit dari basis tinggi (high base) pada 2024-2025 serta perbaikan biaya dana seiring likuiditas yang longgar.
Edward menyoroti pertumbuhan laba yang kuat pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang masing-masing mencatat kenaikan sekitar 17 persen.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) tumbuh lebih moderat, masing-masing sekitar 3 persen dan 4 persen, akibat pertumbuhan kredit yang lebih lambat dan biaya kredit yang lebih tinggi.
Secara valuasi, sektor perbankan dinilai sedang berada dalam kondisi menarik akibat tekanan sentimen global yang mendorong penurunan valuasi.