AALI
9700
ABBA
286
ABDA
7375
ABMM
1380
ACES
1340
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
194
ADRO
2230
AGAR
344
AGII
1435
AGRO
1345
AGRO-R
0
AGRS
167
AHAP
69
AIMS
372
AIMS-W
0
AISA
179
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1140
AKRA
785
AKSI
845
ALDO
1485
ALKA
346
ALMI
278
ALTO
270
Market Watch
Last updated : 2022/01/19 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.22
-0.66%
-3.34
IHSG
6591.98
-0.33%
-22.08
LQ45
938.61
-0.66%
-6.20
HSI
24127.85
0.06%
+15.07
N225
27467.23
-2.8%
-790.02
NYSE
0.00
-100%
-17219.06
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,369
Emas
837,003 / gram

Makro Ekonomi Mulai Membaik, IHSG Diprediksi Masih Bergerak Bullish

MARKET NEWS
Oktiani Endarwati
Rabu, 17 November 2021 10:29 WIB
IHSG masih dalam tahap sehat. IHSG masih bergerak bullish.
Makro Ekonomi Mulai Membaik, IHSG Diprediksi Masih Bergerak Bullish (FOTO:MNC Media)
Makro Ekonomi Mulai Membaik, IHSG Diprediksi Masih Bergerak Bullish (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Equity Analyst PT Kanaka Hita Solvera Raditya Krisna Pradana mengatakan, saat ini pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan kondisi bullish

Hal ini juga didorong oleh indikator makro ekonomi Indonesia yang mulai membaik. "Menurut kami IHSG masih dalam tahap sehat. IHSG masih bergerak bullish. Rilis neraca perdagangan Indonesia pada Oktober juga mencatatkan surplus. Ini jadi indikator makro ekonomi Indonesia yang semakin solid terutama di kuartal IV tahun 2021," ujarnya dalam program IDX Channel, Rabu (17/11/2021). 

Dia melanjutkan,penjualan ritel di Amerika Serikat yang tumbuh 1,7% di bulan Oktober juga tidak berpengaruh signifikan terhadap pasar. "Dengan adanya kenaikan ritel penjualan pasti akan jadi katalis bagi market terutama pasar modal. Untuk signifikan sekali atau tidak, menurut analisis kami untuk ritel penjualan kurang signifikan," ungkapnya. 

Sementara dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia hingga kuartal ketiga tahun ini mencapai USD423,1 miliar atau sekitar Rp6.008 triliun, naik 3,7%. Kenaikan ULN didorong oleh utang luar negeri pemerintah yang bertambah seiring penerbitan global bonds, termasuk Sustainable Development Goals (SDG) Bond sebesar 500 juta euro. 

Menurut Raditya, peningkatan utang yang dilakukan pemerintah digunakan untuk sektor produktif sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap pasar. 

"Misal mayoritas diberikan untuk subsidi, mungkin akan memberi dampak buruk ke market. Selain itu dari risiko refinancing posisi utang luar negeri Indonesia aman karena hampir seluruh utang luar negeri Indonesia memiliki tenor jangka panjang," tuturnya. 

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD