sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Masih Melemah, Rupiah Sore Ditutup ke Level Rp18.083 per USD

Market news editor Anggie Ariesta
28/07/2026 15:39 WIB
Saat ini, perhatian tertuju pada transisi kepimpinan baru di tengah depresiasi nilai tukar rupiah, derasnya outflow dana asing, serta potensi tren kenaikan.
Masih Melemah, Rupiah Sore Ditutup ke Level Rp18.083 per USD. Foto: iNews Media Group.
Masih Melemah, Rupiah Sore Ditutup ke Level Rp18.083 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Melansir Bloomberg, rupiah melemah 74 poin atau 0,41 persen ke Rp18.083 per USD dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen dalam negeri masih dibayangi ketidakpastian usai pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) secara mendadak dan sempat direspons negatif oleh pasar. 

Saat ini, perhatian tertuju pada transisi kepimpinan yang baru di tengah depresiasi nilai tukar rupiah, derasnya outflow dana asing, serta potensi tren kenaikan suku bunga global. 

Namun, penunjukan Destry Damayanti sedikit memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan. 

“Selanjutnya perhatian pasar akan tertuju pada penunjukan Gubernur BI yang definitif. Penunjukkan Gubernur BI yang baru yang sesuai dengan harapan pasar serta transisi kepemimpinan yang berjalan lancar, diharapkan dapat menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tulis Ibrahim dalam risetnya. 

Terkait suksesi kepemimpinan di Bank Indonesia, investor tentunya akan menyerahkan sepenuhnya proses penunjukan pengganti Gubernur BI kepada mekanisme konstitusional dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, seraya meyakini bahwa pemerintah dan otoritas terkait akan menetapkan figur terbaik yang memiliki kredibilitas tinggi serta komitmen kuat terhadap stabilitas perekonomian nasional.

Kemudian, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings ikut merespons berita pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Sovereign Analyst di S&P Global Ratings, Rain Yin, mengatakan hal tersebut tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia, meski hal tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara.

Dari eksternal, aksi saling serang antara AS dan Iran terhenti, The New York Times melaporkan Presiden AS Donald Trump telah menghentikan rencana untuk meningkatkan operasi militer secara tajam di Iran setelah bertemu dengan para penasihat utama dan pejabat senior pemerintahannya. Keputusan tersebut didorong menipisnya persediaan sistem pertahanan udara Pentagon.

Di sisi lain, Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga tetap pada Rabu. Perangkat CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 62 persen untuk skenario tersebut.

Namun, prospek kebijakan moneter cenderung fluktuatif bulan ini di tengah situasi yang dinamis di Timur Tengah. Harga minyak sempat melonjak sekitar 20 persen dalam dua minggu saat AS dan Iran saling melancarkan serangan terkait kendali atas Selat Hormuz.

Investor juga menantikan pernyataan dari Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh. Sebelumnya, Warsh telah menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menjaga stabilitas harga. Dia juga telah meluncurkan tinjauan menyeluruh terhadap operasional Fed dengan menunjuk lima gugus tugas untuk menangani berbagai aspek, seperti komunikasi dan kerangka kerja inflasi.

Kalender ekonomi minggu ini juga akan memberikan petunjuk mengenai kebijakan moneter, karena para pelaku pasar akan menerima data PDB AS kuartal kedua 2026, serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Juni yang merupakan indikator inflasi acuan bagi Fed.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement