Bahana menilai minat investor asing dan ritel domestik masih terbatas. Di sisi lain, investor institusi domestik kemungkinan perlu melakukan rebalancing portofolio untuk menyerap tambahan saham yang beredar di publik.
Dengan demikian, persoalan free float tidak berhenti pada kewajiban emiten melepas sebagian kepemilikannya ke publik.
Pasar juga membutuhkan investor yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk menyerap saham tersebut.
Kondisi ini tercermin dari rendahnya likuiditas pasar saham Indonesia dibandingkan sejumlah negara kawasan.
Bahana mencatat Indonesia memiliki median effective free float sekitar 20 persen, terendah di antara sejumlah pasar utama ASEAN yang dibandingkan.