AALI
12800
ABBA
194
ABDA
0
ABMM
3260
ACES
1005
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4850
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
175
ADRO
3310
AGAR
356
AGII
1945
AGRO
970
AGRO-R
0
AGRS
125
AHAP
62
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
159
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
0
AKRA
1030
AKSI
232
ALDO
930
ALKA
302
ALMI
280
ALTO
206
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
545.18
1.12%
+6.05
IHSG
6942.45
1.75%
+119.11
LQ45
1020.08
1.18%
+11.88
HSI
20502.48
1.9%
+381.80
N225
26708.55
1.16%
+305.71
NYSE
15035.87
-0.06%
-8.65
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
867,040 / gram

Menakar Kinerja Saham Disney, Mungkinkah Bernasib Sama dengan Netflix?

MARKET NEWS
Yulistyo Pratomo
Kamis, 12 Mei 2022 04:03 WIB
Analis justru memperkirakan saham emiten hiburan berkode DIS itu akan naik 65 persen di tahun depan.
Menakar Kinerja Saham Disney, Mungkinkah Bernasib Sama dengan Netflix? (Foto: MNC Media)
Menakar Kinerja Saham Disney, Mungkinkah Bernasib Sama dengan Netflix? (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Rontoknya pergerakan saham Netflix (NFLX) cukup mengejutkan para investor maupun analis, meski penurunan itu terjadi akibat anjloknya pendapatan mereka pada Kuartal I-2022 lalu bersamaan dengan berkurangnya jumlah pelanggan.

Namun, nasib tersebut belum dialami oleh Walt Disney Co. meski secara kinerja mengalami penurunan tahunan terbesar dalam 47 tahun terakhir. Analis justru memperkirakan saham emiten hiburan berkode DIS itu akan naik 65 persen di tahun depan, berdasarkan target rata-rata yang disusun oleh Bloomberg.

Berbeda dengan Netflix, unit streaming Disney dinilai masih memiliki ruang untuk tumbuh. Ditambah lagi, perusahaan ini memiliki bisnis seperti taman hiburan yang sedianya akan pulih setelah sekian lama terjebak dalam kebijakan lockdown pandemi yang segera berakhir di AS dan Eropa.

Namun demikian, analis bersama-sama dengan investor tengah mengamati kinerja perusahaan hiburan terbesar di dunia tersebut terkait popularitas streaming yang kian pudar menjelang berakhirnya masa pandemi Covid-19 tahun ini.

Investor sedang tertarik untuk memantau apakah layanan streaming pada Disney+ akan mengalami masalah serupa dengan Netflix, atau mampu bertahan. Analis sendiri memperkirakan Disney+ memiliki 134,4 juta pelanggan pada kuartal kedua fiskal, naik 3,5% dari kuartal pertama.

“Mimpi industri streaming mungkin akan kehilangan kilaunya, tetapi Disney+ dapat bersinar dengan konten dan skala yang lebih unggul, terutama dengan wajah baru yang didukung dengan iklan,” kata analis senior Bloomberg Intelligence, Geetha Ranganathan.

Disney juga kemungkinan akan menambah 40 juta pelanggan tahun ini berkat "kecepatan yang stabil dari judul-judul baru, konten lokal, dan pasar tambahan."

Saham studio Hollywood kini kembali mendapatkan dorongan kuat usai masa lockdown berakhir di Amerika Serikat, di mana Disney+ juga sukses menarik jutaan pelanggan baru. Dengan pembukaan dan pemulihan ekonomi, perusahaan juga diuntungkan dari rebound bisnis taman hiburannya.

Yang pasti, optimisme analis pada Disney belum membuahkan hasil akhir-akhir ini. Sebab, saham DIS telah merosot 46 persen dibandingkan Maret 2021 dan tahun ini sedang berada di jalur penurunan terbesar sejak 1975.

Meski demikian, para analis meyakini akan tejadi bullish sehingga penurunan lebih burik dapat dihindarkan. Selain kekhawatiran tentang melambatnya pertumbuhan streaming, investor sudah bertanya-tanya berapa lama waktu yang baik dapat bertahan untuk taman hiburan mengingat kekhawatiran resesi meningkat.

"Kami pikir sentimen pada keduanya berlebihan," Steven Cahall, analis Wells Fargo & Co. yang melihat saham naik 69 persen di tahun depan, mengatakan dalam sebuah catatan.

Kinerja baik yang dialami Disney tidak lepas dari terdiversifikasi bisnis yang telah membantu kinerja sahamnya terhindar dari aksi jual sejumlah emiten streaming lainnya seperti Netflix, Peloton Interactive Inc dan Zoom Video Communications Inc, yang masing-masing mengalami pelemahan antara 75 persen dan 92 persen dari puncaknya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD