Sebaliknya, harga komoditas yang tetap tinggi dapat menopang kinerja emiten energi dan pertambangan Indonesia.
Pergerakan batu bara, emas, nikel, CPO dan komoditas lainnya juga perlu dicermati karena memiliki pengaruh besar terhadap laba sejumlah emiten berkapitalisasi besar.
Dengan demikian, peluang technical rebound IHSG pada November memang terbuka setelah koreksi tajam Oktober. Faktor seasonality, valuasi yang semakin murah dan potensi stabilisasi arus modal dapat menjadi penopang.
Namun, pemulihan indeks kali ini tidak hanya bergantung pada pola historis.
Pasar akan menguji apakah reformasi HSC, penegakan hukum dan perbaikan transparansi pasar mampu menjawab kekhawatiran MSCI.
Jika tekanan jual asing mulai mereda dan musim laporan keuangan memberikan kejutan positif, ruang pemulihan IHSG dapat terbuka lebih lebar.