Namun, sebagian tekanan tersebut telah terjadi sejak MSCI mengeluarkan peringatan. CGSI memperkirakan hampir USD800 juta telah keluar dari pasar Indonesia sejak 16 Oktober 2026.
Di sisi lain, koreksi tajam membuat valuasi saham Indonesia semakin murah. Imbal hasil dividen rata-rata konstituen MSCI Indonesia Standard Cap telah mencapai sekitar 9 persen, sedangkan forward P/E FY27F turun menjadi 8,9 kali.
Kondisi tersebut dapat menjadi bantalan bagi pasar jika tekanan jual asing mulai mereda. Namun, CGSI masih mewaspadai arus keluar asing dalam jangka pendek hingga MSCI mengambil keputusan pada atau sebelum Juni 2027.
Saham Dividen Jadi Pilihan
Di tengah ketidakpastian tersebut, CGSI menggeser pilihan saham unggulan dengan memberikan bobot lebih besar pada emiten berimbal hasil dividen tinggi dan perusahaan dengan pendapatan dalam dolar AS.
CGSI mengeluarkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dari daftar top picks dan memasukkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).