Minyak sawit umumnya mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak mentah menguat setelah menjauh dari posisi terendah tujuh pekan yang tercapai pada sesi sebelumnya.
Kenaikan dipicu serangan baru militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran serta data pasar yang menunjukkan penurunan besar persediaan minyak mentah AS.
Penguatan harga minyak mentah membuat minyak sawit lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Nilai tukar ringgit Malaysia, mata uang perdagangan minyak sawit, melemah 0,05 persen terhadap dolar AS. Pelemahan ini membuat minyak sawit menjadi lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing.