AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26098.99
0.31%
+81.46
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17083.15
-0.09%
-16.06
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,155
Emas
816,110 / gram

Mengulik Dampak Ancaman Bangkrutnya Evergrande Terhadap IHSG?

MARKET NEWS
Aditya Pratama/iNews
Selasa, 21 September 2021 11:34 WIB
IDXChannel - Sejumlah bursa di seluruh dunia mengalami koreksi setelah perusahaan properti China, Evergrande, terancam bangkrut. Lalu bagaimana dengan IHSG?
Mengulik Dampak Ancaman Bangkrutnya Evergrande Terhadap IHSG? (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Sejumlah bursa di seluruh dunia mengalami koreksi setelah perusahaan properti China, Evergrande, terancam bangkrut. Wall Street pada pagi ini turun cukup dalam, dampaknya juga terasa di bursa Asia.

Lalu bagaimana dengan IHSG?

Analisis Panin Sekuritas, William Hartanto, menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak akan memberikan dampak signifikan terkait sentimen negatif raksasa.

"Tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap IHSG. Terlalu dipaksakan jika mengatakan bahwa bangkrutnya emiten di luar negeri akan memengaruhi pasar negara lain, kecuali kalau ini ceritanya di emiten di Indonesia, baru ada efeknya ke IHSG karena memengaruhi kepercayaan investor," ujar William kepada MNC Portal Indonesia, Selasa (21/9/2021).

Sentimen negatif dari Evergrande ini diketahui berdampak langsung terhadap sejumlah bursa di Asia, salah satunya Indeks harga saham acuan bursa Hong Kong (Hang Seng Index). Menurut William, hal tersebut wajar jika terjadi demikian.

"Evergrande di China, jika efeknya kena di bursa China itu wajar. Mungkin karena kapitalisasi pasarnya juga besar," kata dia.

Dia turut menyarankan kepada para investor untuk tidak perlu ikutan panik terkait sentimen Evergrande. Pasalnya, potensi bangkrut perusahaan tersebut belum tentu terjadi.

"Pertama, itu baru potensi bangkrut, belum bangkrut beneran. Pun, engga ada hubungannya ke Indonesia kalau dia beneran bangkrut. Investor dalam negeri disarankan untuk melihat tren besar IHSG, dan jika menurut mereka masih aman, maka pelemahan ini jadi kesempatan buy on weakness. Menurut saya IHSG masih sideways, area 6.000-6.172," ucapnya.

Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, mengatakan, jika dilihat dari pergerakan IHSG pada September bahwasannya indeks akan bertahan di zona merah. Pasalnya, hal tersebut merupakan bagian dari efek bulan September atau September Effect.

"Karena kalau secara historical pergerakan indeks cenderung bertahan di zona merah, kebetulan kalau sentimen selama bulan ini berkaitan dengan dinamika kebijakan The Fed yang akan melaksanakan kebijakan tapering, tapi pengumumannya lagi ditunggu," ucap Nafan.

Nafan menambahkan, selain September Effect maupun pengumuman The Fed, sentimen negatif terkait Evergrande juga menjadi sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG.

"Kebetulan juga pada 20 September sehubungan dengan properti asal Tiongkok bernama Evergrande, itu lumayan besar, tapi masalahnya perusahaan tersebut belum mampu melunaskan utang jatuh tempo, itu juga kebetulan membuat terjadinya kondisi panic selling yang pada pergerakan Bursa di regional Asia," tuturnya.

Evergrande Group atau Evergrande Real Estate Group (sebelumnya Hengda Group) merupakan perusahaan pengembang properti terbesar kedua di China dalam hal penjualan, menjadikannya perusahaan terbesar ke-122 di dunia dalam hal pendapatan, menurut 2021 Fortune Global 500 List.

Perusahaan tersebut berbasis di Provinsi Guangdong, China selatan, dan menjual apartemen-apartemen utamanya kepada para pembeli berpendapatan menengah dan ke atas.

Evergrande saat ini dikabarkan masih berupaya untuk menempuh jalur perpanjangan tenor pembayaran di sejumlah bank. Perusahaan ini disebut memiliki kewajiban mencapai USD305 miliar atau setara dengan Rp4.361 triliun (dengan kurs Rp14.300/USD). (TYO)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD