Capaian ini menempatkan MyRepublic Indonesia sebagai salah satu pemain fixed broadband yang berfokus pada perluasan penetrasi internet berkecepatan tinggi di Indonesia.
Pasca merger, kekuatan kedua entitas tersebut saling melengkapi. Infrastruktur backbone dan data center milik Moratelindo menyediakan kapasitas, keandalan, serta skala jaringan, sementara jaringan last mile MyRepublic Indonesia mempercepat penetrasi layanan langsung ke konsumen.
Entitas hasil penggabungan diproyeksikan mengelola lebih dari 116 ribu kilometer jaringan fiber optik, dengan basis pelanggan ritel di atas 1,8 juta serta puluhan ribu pelanggan enterprise. Skala tersebut dinilai sulit dicapai apabila kedua perusahaan beroperasi secara terpisah.
Analis Stockbit Sekuritas Rizal Rafly menilai konsolidasi ini sebagai langkah strategis di tengah tekanan belanja modal di industri. Menurut dia, penggabungan Moratelindo dan MyRepublic Indonesia mencerminkan konsolidasi yang sehat.
"Dalam industri dengan kebutuhan investasi jaringan yang sangat besar, sinergi antara backbone dan last mile akan menekan duplikasi belanja modal sekaligus meningkatkan utilisasi aset yang sudah ada. Hal ini dinilai penting agar ekspansi jaringan tetap berkelanjutan tanpa membebani struktur keuangan perusahaan," katanya.