sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

MGLV Muncul Jadi Pemain Data Center AI, Ini Prospeknya

Market news editor Rahmat Fiansyah
22/09/2026 06:00 WIB
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) tiba-tiba menjelma menjadi pemain data center di Indonesia melalui aksi backdoor listing.
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) tiba-tiba menjelma menjadi pemain data center di Indonesia melalui aksi backdoor listing. (Foto: Dok. Magnific)
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) tiba-tiba menjelma menjadi pemain data center di Indonesia melalui aksi backdoor listing. (Foto: Dok. Magnific)

IDXChannel - PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) tiba-tiba menjelma menjadi pemain data center di Indonesia. Perusahaan yang sebelumnya bernama PT Panca Anugrah Wisesa Tbk ini menjadi sasaran backdoor listing dari entitas milik Glen Sugita dan Suriyanto.

Langkah strategis itu mendorong harga saham MGLV melonjak 1.400 persen sejak awal 2026. Bahkan jika ditarik tiga tahun ke belakang, kenaikan harga saham MGLV mencapai lebih dari 13 ribu persen, menjadikannya salah satu saham top performer di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pengendali baru MGLV, PT Nextier Datamate Center (NDC) menyuntik aset perusahaan data center yakni PT Nextier Askara Center (NAC) di Jababeka dan PT Nextier GenAi Center (NGC) di kawasan industri Batang.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan, NDC sebagai pengendali baru akan membuat MGLV bertransformasi menjadi pemain data center AI melalui serangkaian aksi korporasi, termasuk pendanaan Rp2,54 triliun lewat rights issue dan pinjaman pemegang saham sebesar Rp4 triliun.

"Awalnya, (MGLV) meninggalkan  bisnis lamanya dengan melepas 13 anak usaha Rp121,5 miliar, kemudian mengakuisisi dua aset dari NDC," katanya dalam riset dikutip Senin (21/9/2026).

Berdasarkan proyeksi BRI Danareksa Sekuritas, MGLV akan memiliki kapasitas data center sebesar 102 megawatt (MG) di kuartal II-2027. Angka tersebut berasal dari pengembangan data center di Jababeka sebesar 42 MW dan Batang 60 MW.

Untuk mendukung ekspansi itu, MGLV melakukan rights issue dan pinjaman pemegang saham. Rights issue jumbo MGLV tersebut telah diumumkan dengan harga pelaksanaan Rp8.880 dan rasio 100:15 dengan target dana Rp2,54 triliun.

Selain itu, kata Kafi dan Erindra, MGLV juga akan membangun gardu induk sendiri dengan kapasitas 100 MVA di masing-masing lokasi Jababeka dan Batang. Langkah ini ditujukan untuk mengatasi keterbatasan kapasitas jaringan PLN di sekitar lokasi.

Dalam pengembangan data center, MGLV menargetkan biaya pembangunan di bawah USD10 juta per MW. Di Batang, data center milik MGLV berpotensi memperoleh katalis dari Zankore, perusahaan patungan neocloud milik PT Indosat Tbk (ISAT) dengan peluang ekspansi hingga 900 MW. 

Menurut Kafi dan Erindra, harga saham MGLV saat ini sudah mencerminkan valuasi kapasitas data center 102 MW pada 2027. Oleh karena itu, katalis berikutnya akan bergantung pada kecepatan penambahan kapasitas data center dari Zankore.

Dengan kapasitas data center 102 MW, maka ekuitas MGLV berada di level Rp4,9 triliun. Mereka memproyeksikan jika kapasitas data center bisa naik menjadi 400 MW pada 2029, ekuitas MGLV berada di level Rp42,8 triliun. Dengan skenario ekspansi hingga 900 MW di 2031, nilai ekuitas diperkirakan mencapai Rp106 triliun.

Saat ini, nilai pasar MGLV sekitar Rp27-Rp28 triliun di mana pasar telah memperhitungkan sebagian potensi ekspansi menuju 400 MW. Dengan begitu, realisasi dari rencana penambahan kapasitas menjadi faktor penting dalam mendongkrak kinerja dan valuasi perusahaan ke depan.

"Pada akhirnya, kami menilai realisasi potensi tersebut sangat bergantung pada seberapa cepat Zankore sebagai anchor tenant melakukan ekspansi kapasitas," katanya.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement