"Selain itu, produk olahan berbasis ayam dipandang sebagai mesin pertumbuhan baru bagi industri seiring perubahan pola konsumsi masyarakat menuju produk makanan olahan dan siap saji. Tren tersebut dinilai sejalan dengan pengalaman negara maju yang mencatat peningkatan konsumsi ultra processed foods (UPF) dalam beberapa dekade terakhir," jelasnya.
Sentimen positif terhadap sektor poultry juga tercermin dari meningkatnya minat investor asing terhadap saham-saham unggas nasional. Mirae Asset mencatat arus dana asing terus mengalir ke saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dalam beberapa bulan terakhir.
Kepemilikan investor asing pada saham JPFA berdasarkan tradeable shares meningkat menjadi 80 persen pada Mei 2026 dari sebelumnya 70 persen, terutama didorong oleh aksi beli reksa dana asing. Sementara itu, kepemilikan asing di CPIN juga naik menjadi 88 persen dari sebelumnya 86 persen pada periode yang sama.
Mirae Asset juga melihat adanya peluang revisi naik proyeksi laba emiten poultry pada 2026. JPFA bahkan menargetkan laba bersih tahun ini dapat mencapai Rp5 triliun, didukung oleh kuatnya kinerja operasional sepanjang semester pertama 2026. Sementara itu, target pertumbuhan laba CPIN sebesar 5 persen dinilai masih terlalu konservatif dan berpotensi direvisi lebih tinggi oleh konsensus pasar.
"Sejalan dengan prospek tersebut, Mirae Asset mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor poultry dengan target harga saham CPIN sebesar Rp6.825 per saham dan JPFA sebesar Rp3.750 per saham. Risiko utama yang perlu dicermati investor antara lain penurunan harga DOC dan broiler, kenaikan harga bahan baku, serta realisasi program MBG yang lebih rendah dari ekspektasi," tegasnya.
(Shifa Nurhaliza Putri)