IDXChannel - Setelah selama puluhan tahun surplus negara-negara besar banyak didaur ulang ke aset Amerika Serikat (AS), sejumlah ekonomi utama kini mendorong lebih banyak modal untuk kembali berinvestasi di dalam negeri.
Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra menilai perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam lanskap keuangan global.
Dalam riset yang terbit pada 15 September 2026, ia melihat arus modal mulai bergerak menjauh dari struktur yang selama ini sangat berpusat pada AS.
Selama sekitar delapan dekade, negara-negara dengan surplus perdagangan seperti Jepang, China, Eropa, hingga negara-negara Teluk banyak menempatkan surplus tersebut ke aset AS, terutama US Treasury.
Pola ini turut membantu membiayai defisit AS sekaligus memperkuat permintaan global terhadap aset berbasis dolar AS.
Namun, pola tersebut mulai perlahan berubah. Sejumlah negara kini melakukan diversifikasi cadangan, meningkatkan investasi domestik, dan memperketat arus investasi ke luar negeri. Kondisi ini berpotensi mengurangi permintaan marginal terhadap aset AS, termasuk US Treasury.
Di Eropa, misalnya, kebijakan Savings and Investment Union diarahkan untuk menyalurkan tabungan rumah tangga ke perusahaan dan investasi di dalam kawasan. China juga meningkatkan biaya serta pengawasan terhadap investasi di luar negeri.
Sementara di Jepang, kenaikan imbal hasil obligasi domestik membuat aset lokal semakin menarik. Bersamaan dengan itu, terjadi penjualan signifikan atas sejumlah sekuritas asing.
Menurut Arief, kombinasi kebijakan tersebut berpotensi mengarahkan lebih banyak tabungan global ke pasar domestik masing-masing negara. Artinya, ketergantungan terhadap daur ulang surplus ke aset AS dapat berkurang secara bertahap.
Perubahan serupa juga terlihat pada cadangan emas. Meningkatnya ketegangan geopolitik, risiko sanksi, serta kekhawatiran terhadap keamanan cadangan mendorong sejumlah bank sentral memindahkan emas fisik lebih dekat ke wilayahnya sendiri.
Belanda telah memindahkan sebagian cadangan emasnya dari New York, sementara Prancis dan Jerman juga melakukan repatriasi emas dalam jumlah signifikan.
Langkah tersebut mencerminkan keinginan negara untuk memiliki kontrol yang lebih besar atas cadangan strategis dan mengurangi ketergantungan terhadap penyimpanan di luar negeri.
Arief menilai tren repatriasi modal dan diversifikasi cadangan tersebut memang mengarah pada berkurangnya dominasi sistem yang berpusat pada dolar. Namun, perkembangan ini belum dapat diartikan sebagai eksodus besar-besaran dari dolar AS.
Bagi Indonesia, perubahan arus modal global tersebut dapat menjadi peluang apabila pemerintah mampu memperkuat daya tarik investasi domestik.
Arief menilai Indonesia perlu meningkatkan kepastian kebijakan, menjaga stabilitas rupiah, memperbaiki tata kelola, serta menyediakan insentif agar sektor swasta lebih terdorong menginvestasikan kembali dananya di dalam negeri.
Dalam strategi investasinya, Arief masih mempertahankan pandangan overweight terhadap saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) dan perusahaan yang memiliki pendapatan dalam valuta asing. Sebaliknya, sektor perbankan masih ditempatkan dalam posisi underweight.
Untuk emas, Arief memilih bersikap netral dengan asumsi Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga 25 basis poin pada 16 September 2026.
Ia baru akan berubah bullish terhadap emas apabila pasar mulai memperkirakan perubahan arah kebijakan The Fed, dari pengetatan yang hawkish menuju pelonggaran yang dovish. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.