Penurunan laba secara kuartalan terutama berasal dari melemahnya profitabilitas bisnis logam mulia akibat penurunan harga jual rata-rata emas. Tekanan tersebut sebagian besar tertahan oleh membaiknya kinerja nikel.
Segmen nikel mencatat peningkatan operasional paling kuat pada kuartal II-2026.
Volume penjualan feronikel melonjak 71 persen secara kuartalan menjadi 4,8 ribu ton nikel, sementara harga jual rata-rata bijih nikel naik 21 persen menjadi sekitar USD80 per wet metric ton (wmt).
Dengan volume penjualan bijih nikel yang relatif stabil di sekitar 3,4 juta wmt, EBITDA bisnis nikel meningkat 41 persen secara kuartalan menjadi Rp3,4 triliun.
Angka tersebut sudah melampaui EBITDA segmen logam mulia dan pemurnian yang turun 53 persen menjadi Rp1,2 triliun seiring penurunan harga jual rata-rata emas sebesar 8 persen menjadi USD4.746 per troy ounce.
Kinerja bisnis bauksit dan alumina juga membaik. EBITDA segmen tersebut berbalik positif menjadi Rp134 miliar, dari posisi rugi pada tahun sebelumnya.