Namun demikian, Andreas mengakui adanya sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai. Faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik, kondisi ekonomi global, hingga konflik perang berpotensi menekan kepercayaan konsumen.
“Situasi global bisa membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya,” tutur Andreas.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, AVIA akan tetap agresif menjalankan berbagai inisiatif bisnis, mulai dari penguatan pemasaran, peningkatan penjualan, hingga peluncuran produk baru.
Sebagai informasi, perusahaan cat milik konglomerat Hermanto Tanoko itu mencetak laba bersih sebesar Rp1,74 triliun, tumbuh 5 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp1,66 triliun.
Selaras dengan kenaikan kinerja bottom line, pendapatan Avian mencapai Rp8,12 triliun, naik 8,7 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp7,47 triliun. Kenaikan ini ditopang pertumbuhan volume penjualan sebesar 7,4 persen.
(DESI ANGRIANI)